HORIZONNEWS.ID — Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat nilai ekspor Indonesia secara kumulatif pada Januari-Juli 2026 mencapai USD 167,03 miliar. Realisasi ini tumbuh 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Khusus ekspor nonmigas, volumenya mencapai USD 160,01 miliar atau meningkat 5,21 persen secara tahunan.
Hilirisasi Jadi Kunci Perkuat Daya Saing
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan dominasi industri pengolahan menjadi bukti nyata pentingnya peningkatan nilai tambah produk dalam negeri. Menurutnya, penguatan nilai tambah melalui hilirisasi harus terus digenjot untuk memperluas pasar global.
“Industri pengolahan menjadi salah satu kekuatan utama ekspor Indonesia. Penguatan nilai tambah melalui hilirisasi dan peningkatan daya saing produk ekspor perlu terus dilakukan agar semakin banyak produk Indonesia mampu menembus pasar global,” kata Budi dalam keterangannya, Kamis (3/9).
Komoditas Unggulan Beri Pertumbuhan Tertinggi
Dari sisi komoditas, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) mencetak pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi hingga 85,78 persen. Disusul nikel dan barang daripadanya (HS 75) yang tumbuh 49,84 persen. Sementara tembaga dan barang daripadanya (HS 74) mencatatkan pertumbuhan signifikan di periode yang sama.