MEDAN — Keruntuhan tambang emas al-Zara terjadi pada Minggu dan dengan cepat menjalar ke lubang-lubang tambang lain yang saling terhubung di kawasan tersebut. Suleiman Abu Hmeida dari Emergency Response Rooms menyatakan 82 jenazah telah ditemukan, angka yang turut dikonfirmasi seorang pejabat pemerintahan lokal setempat.
Hingga Rabu, tim penyelamat masih mengeluarkan korban dari dalam reruntuhan. Sebagian bagian tambang memiliki kedalaman lebih dari 30 meter, kondisi yang memperlambat upaya pencarian pekerja yang kemungkinan masih tertimbun di bawah tanah.
Hanya Satu Forklift untuk Angkat Material dari Kedalaman 30 Meter
Upaya penyelamatan menghadapi kendala serius karena hanya tersedia satu forklift milik swasta untuk membantu mengangkat material dari lokasi tambang. Alat berat yang terbatas itu dinilai tidak sebanding dengan skala keruntuhan yang terjadi.
Seorang penyintas, Khairal-Sayed Gabara, mengatakan kondisi di lokasi sangat buruk. Menurut dia, para pekerja tidak memiliki mesin berat yang diperlukan untuk mengangkat tanah dan batu dari lubang tambang.
"Ada puluhan orang yang bekerja di tambang," kata Gabara kepada Associated Press.
Ia menyebut para penyelamat membutuhkan peralatan untuk mengangkat tanah dan bebatuan dari kedalaman lebih dari 30 meter. Tanpa dukungan alat berat, proses evakuasi berjalan lambat dan berisiko bagi tim yang berada di dalam lubang.
Jumlah Korban Sempat Berbeda pada Tahap Awal Pencarian
Penyintas lainnya, Al-Amin Suliman, sebelumnya mengatakan sekitar 60 jenazah telah ditemukan hingga Rabu pagi. Ia juga menyebut masih ada pekerja yang terjebak di dalam tambang saat proses pencarian berlangsung.
Sudan Doctors Network sebelumnya menyatakan sedikitnya 67 jenazah telah ditemukan dan memperingatkan jumlah korban dapat terus bertambah karena operasi pencarian masih berlangsung. Perbedaan angka itu muncul karena proses pendataan di lokasi belum tuntas.
Tambang Informal Tanpa Standar Keselamatan Dasar
Kelompok tersebut menyebut tambang al-Zara merupakan lokasi pertambangan informal yang mempekerjakan pekerja tanpa perlindungan dan standar keselamatan dasar. Kondisi itu meningkatkan risiko kecelakaan, terutama ketika terjadi keruntuhan struktur bawah tanah.
Wilayah West Kordofan berada di bawah kendali kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), yang telah berperang melawan militer Sudan selama lebih dari tiga tahun. Situasi keamanan tersebut menambah lapisan kesulitan bagi tim penyelamat yang berupaya menjangkau lokasi keruntuhan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai jumlah pekerja yang masih hilang maupun jadwal penambahan peralatan penyelamatan ke lokasi tambang.